Sejak Kapan Kau Menjadi Tuhan?

menyoroti masalah saling menghardik antar agama
Sejak Kapan Kau Menjadi Tuhan?

Ada luka yang tidak berdarah, tapi perihnya sampai ke tulang.

Luka itu bukan datang dari musuh yang membencimu.

Tapi dari mereka yang mengaku membawa cinta Tuhan, namun menyerahkanmu pada dinginnya penghakiman.

“Sejak bila hidupku ditimbang olehmu?”

Pertanyaan ini sederhana. Tapi jawabannya seringkali menyakitkan.

Mereka berkata dengan nada lembut, atau kadang dengan teriakan lantang:

“menyesal lah Engkau”

“Kau akan masuk neraka”

“Kau Kafir”

Aku bertanya dalam diam:

Siapa yang memberimu wewenang itu?

Apakah kau telah duduk bersimpuh di hadapan-Nya, lalu Dia menunjukmu sebagai hakim bagi hamba-hamba lainnya?

1. Topeng Kesalehan dan Kekuasaan

Bagaimana bisa manusia—yang napasnya masih bergantung pada izin-Nya—berani memutuskan takdir saudaranya?

Karl Marx pernah mengingatkan kita tentang bahaya agama ketika ia menjadi “Opium”—bukan sebagai penenang jiwa, tapi sebagai alat untuk membius kesadaran agar menerima ketidakadilan. Ketika para elit agama menggunakan dogma untuk membungkam pertanyaan dan menghakimi yang lemah, mereka tidak sedang melayani Tuhan. Mereka sedang melayani struktur kekuasaan mereka sendiri.

Mereka membaca ayat-ayat indah, kalimat-kalimat suci yang seharusnya menyejukkan.

Tapi di lidah mereka, ayat-ayat itu berubah menjadi cambuk.

Mereka mengais nikmat Tuhan, mengejarnya hingga lupa bahwa di sampingnya, ada saudaranya yang sedang terjatuh.

2. Kebebasan Hati vs. Penjara Dogma

Aku melihat ada orang yang sedang berusaha bangkit, perlahan memperbaiki diri.

Namun bukannya uluran tangan, yang ia dapat adalah cibiran: “Terlambat.”

John Stuart Mill, pernah berkata bahwa “Satu-satunya kebebasan yang layak disebut kebebasan adalah kebebasan untuk mengejar kebaikan kita sendiri dengan cara kita sendiri.”

Mengapa kita merasa berhak merampas kebebasan batin orang lain?

Mengapa kita merasa lebih tahu apa yang baik bagi hati seseorang daripada pemilik hati itu sendiri?

Ketika iman dipaksakan lewat rasa takut dan hinaan, ia bukan lagi keyakinan. Ia adalah penjara. Dan mereka yang membangun penjara itu sering kali lupa bahwa kunci kebebasannya ada di tangan Tuhan, bukan di saku jubah mereka.

3. Integritas di Atas Popularitas

Ironisnya, mereka yang paling lantang berbicara tentang surga, seringkali adalah mereka yang paling sibuk membangun neraka kecil di dunia ini untuk orang lain.

George Orwell dalam esainya mengatakan, “Dalam zaman tipu daya, mengatakan hal yang jujur adalah tindakan revolusioner.”

Jujur berarti mengakui bahwa kita tidak tahu isi hati orang lain.

Jujur berarti menolak mentarifkan hidayah atau menjadikan kesalehan sebagai komoditas bisnis.

Jujur berarti berani berkata, “Aku tidak berhak menghakimimu,” meskipun itu berarti kehilangan pengikut atau popularitas.

Bukan Tuhan yang salah. Kalimat-Nya tetap mulia. Cahaya-Nya tetap putih bersih.

Hanya saja, ketika cahaya itu dipantulkan melalui cermin yang retak karena ego, maka bayangannya pun menjadi distortif dan menakutkan.

4. Kembali Menjadi Manusia

Tuhan tidak butuh pembelaan yang penuh kebencian.

Tuhan tidak butuh kemuliaan yang dibangun di atas puing-puing harga diri manusia lain.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Menurunkan jari telunjuk yang sibuk menunjuk kesalahan orang lain.

Dan mulai melihat ke dalam dada kita sendiri.

Seperti kata Paus Fransiskus:

“Who am I to judge?”

Siapa aku? Siapa kamu?

Kita hanyalah debu yang diberi kesempatan untuk bernapas.

Jangan jadikan napas itu sebagai alat untuk mencekik harapan orang lain.

Biarkan Tuhan yang menjadi Hakim.

Tugas kita hanyalah menjadi manusia.

Manusia yang mengerti rasa sakit.

Manusia yang tahu bagaimana rasanya dihakimi.

Dan memilih untuk tidak melakukannya pada orang lain.


Write a comment